Menjemput Abad Kedua Nahdlatul Ulama: Merawat Tradisi, Menguatkan Transformasi


Oleh: H. Mustafa, MA
Ketua Tanfidziah PCNU Kota Payakumbuh

Tidak terasa, Nahdlatul Ulama (NU) akan segera menapaki usia satu abad lebih. Seratus tahun perjalanan NU bukanlah rentang waktu yang pendek. Ia adalah sejarah panjang tentang ikhtiar menjaga agama, menguatkan umat, dan merawat bangsa. Dari ruang-ruang pesantren hingga gelanggang kebangsaan, NU telah membuktikan dirinya sebagai organisasi keagamaan yang berakar kuat pada tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus adaptif terhadap dinamika zaman.

Abad pertama NU diisi dengan perjuangan mempertahankan ajaran Islam yang moderat, membela kepentingan umat, serta berperan aktif dalam proses kelahiran dan penjagaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peran ulama NU dalam Resolusi Jihad 1945, penguatan konsensus kebangsaan, hingga kontribusi sosial-keagamaan di akar rumput menjadi fondasi penting bagi eksistensi NU hari ini.

Kini, ketika NU memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi tentu berbeda. Perubahan sosial berlangsung sangat cepat. Revolusi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan beragama. Di sisi lain, muncul tantangan ideologis berupa ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi yang kerap memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan pengaruhnya. Kondisi ini menuntut NU untuk tidak hanya mempertahankan warisan masa lalu, tetapi juga melakukan transformasi agar tetap relevan dan solutif.

Transformasi yang dimaksud tentu bukan meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, tradisi keilmuan, amaliyah, dan nilai-nilai Aswaja harus terus dirawat sebagai fondasi utama. Namun, cara pengelolaannya perlu disesuaikan dengan konteks kekinian. NU harus mampu menghadirkan Islam yang ramah dan menyejukkan dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda, tanpa kehilangan kedalaman makna dan otoritas keilmuan.

Dalam konteks lokal, NU di daerah memiliki peran strategis. PCNU Kota Payakumbuh, misalnya, memikul tanggung jawab untuk memastikan NU benar-benar hadir di tengah masyarakat. Penguatan jamaah dan jam’iyyah harus berjalan seiring. NU tidak cukup hanya kuat secara struktur organisasi, tetapi juga harus dirasakan manfaatnya oleh umat. Program pendidikan keagamaan, penguatan ekonomi warga, serta kepedulian sosial harus menjadi kerja nyata yang berkelanjutan.

Abad kedua NU juga harus menjadi momentum serius dalam pengkaderan. Generasi muda NU perlu disiapkan tidak hanya sebagai pelanjut estafet organisasi, tetapi juga sebagai pemimpin masa depan yang berkarakter, berilmu, dan berwawasan kebangsaan. Kaderisasi yang sistematis, inklusif, dan berkelanjutan menjadi kunci agar NU tidak kehilangan ruh perjuangannya di tengah arus globalisasi.

Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi tidak bisa dihindari. Media digital harus diposisikan sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penguatan literasi keislaman yang sehat. NU perlu hadir aktif di ruang-ruang digital untuk menyampaikan pesan keislaman yang moderat dan mencerahkan, sekaligus menangkal narasi keagamaan yang sempit dan memecah belah.

NU sejak awal berdiri telah menegaskan komitmennya terhadap keutuhan bangsa. Dalam abad kedua ini, komitmen tersebut harus semakin diperkuat. NU harus terus menjadi penyangga utama persatuan nasional, penjaga nilai-nilai Pancasila, dan mitra kritis konstruktif bagi pemerintah. Sikap ini penting agar NU tetap berada pada posisi khidmah, bukan sekadar simbol atau kekuatan pragmatis.

Akhirnya, abad kedua NU adalah panggilan untuk memperbaharui niat dan memperkuat ikhtiar. NU harus terus meneguhkan dirinya sebagai rumah besar yang meneduhkan, tempat umat bernaung, dan sumber inspirasi peradaban. Dengan tetap berpegang pada nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal, NU insyaAllah akan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Menjemput abad kedua bukan sekadar merayakan usia, tetapi memastikan bahwa NU tetap relevan, bermanfaat, dan istiqamah dalam khidmahnya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. ( F )


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *