Dari Payakumbuh, NU Meneguhkan Jalan Tengah


Oleh: Dr. Asafil Kudri, MA
Katib PCNU Kota Payakumbuh

Di tengah lanskap sosial yang kian riuh oleh polarisasi, sikap beragama yang ekstrem baik ke kanan maupun ke kiri menjadi tantangan nyata bagi kehidupan kebangsaan. Agama kerap ditarik ke ruang konflik, bukan lagi sebagai sumber kebijaksanaan, melainkan alat pembenar kepentingan sesaat. Dalam situasi seperti inilah, Nahdlatul Ulama kembali dihadapkan pada tanggung jawab historisnya: meneguhkan jalan tengah.

Dari Payakumbuh, sebuah kota yang merekam kuatnya perjumpaan adat, agama, dan tradisi, NU hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penyangga akal sehat umat. Jalan tengah yang diperjuangkan NU bukanlah sikap abu-abu tanpa prinsip, melainkan posisi sadar yang berpijak pada keseimbangan: antara teks dan konteks, antara tradisi dan perubahan, antara keimanan dan kebangsaan.

Aswaja an-Nahdliyah sejak awal meletakkan fondasi keberagamaan yang berakar pada moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), keadilan (ta‘adul), dan toleransi (tasamuh). Nilai-nilai inilah yang menjadikan NU tetap relevan di tengah perubahan zaman. Ketika sebagian kelompok tergoda untuk memonopoli kebenaran, NU justru mengajarkan kerendahan hati intelektual: bahwa agama harus dihadirkan untuk merawat kehidupan, bukan memecahnya.

Payakumbuh, dengan karakter masyarakatnya yang religius sekaligus terbuka, menjadi ruang strategis bagi penguatan Islam ramah dan beradab. NU di daerah tidak berdiri di menara gading wacana, tetapi menyatu dengan denyut sosial umat menghidupkan majelis taklim, menjaga tradisi keagamaan, sekaligus membangun kesadaran kebangsaan. Inilah kerja sunyi NU yang kerap luput dari sorotan, namun justru menentukan arah keumatan.

Meneguhkan jalan tengah hari ini juga berarti menjaga etika publik. Di era media sosial, narasi keagamaan mudah tereduksi menjadi potongan emosi dan provokasi. NU memikul peran penting untuk menghadirkan suara penjernih menempatkan perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman. Kondusivitas sosial bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan hasil dari kesadaran kolektif yang terus dirawat.

NU memahami betul bahwa Indonesia bukan negara satu warna. Keberagaman adalah fakta sosiologis sekaligus anugerah teologis. Karena itu, komitmen kebangsaan NU tidak pernah bertentangan dengan komitmen keislaman. Justru dari sintesis keduanya, lahir sikap keberagamaan yang matang dan bertanggung jawab.

Dari Payakumbuh, NU ingin menegaskan kembali pesan penting ini: jalan tengah bukan jalan kompromi yang lemah, melainkan jalan keberanian. Keberanian untuk adil, bijak, dan berpihak pada kemaslahatan. Di saat banyak pihak memilih berteriak, NU memilih merawat. Di saat yang lain sibuk menghakimi, NU memilih membimbing.

Pada akhirnya, masa depan keumatan tidak ditentukan oleh seberapa keras kita bersuara, tetapi seberapa dalam kita menjaga nilai. Dan dari daerah, dari Payakumbuh, NU terus meneguhkan ikhtiarnya menjadi penjaga keseimbangan di tengah zaman yang mudah tergelincir ke jurang ekstremitas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *